Selasa, 09 Juni 2015

ANGIOGENESIS PADA KONDISI-KONDISI PRE MALIGNAN



ANGIOGENESIS PADA KONDISI-KONDISI PRE MALIGNAN
                          
Bukti dari studi-studi manusia menyatakan bahwa angiogenesis dimulai sepanjang stadium pre-malignan kanker. Penghambatan angiogenesis dapat menjadi nilai penting dalam mencegah perkembangan menjadi kanker invasif. Memahami mekanisme-mekanisme yang menginduksi angiogenesis pada lesi-lesi ini dan identifikasi penting pada tumorigenesis manusia penting untuk pengembangan strategi-strategi translasional yang akan membantu menyadari tujuan dari angioprevention (pencegahan angiogenesis)
Kondisi-kondisi pre malignan merupakan lesi-lesi yang secara klinis dapat dikenal dimana secara kuat dihubungkan dengan perkembangan dari neoplasia malignan. Lesi-lesi pre malignan  didefinisikan dengan observasi epidemiologi dimana pasien-pasien dengan lesi-lesi seperti itu mempunyai risiko kanker yang meningkat, dan sebaliknya, pasien-pasien dengan kanker organ spesifik juga menunjukkan insiden tinggi dari kondisi-kondisi pre malignan. (Peckham et al, 1995). Oleh karena itu penting untuk mendeteksi lesi-lesi prekursor ini dan untuk menstratifikasi (membuat tingkatan) menurut risiko dari perkembangan kanker, sehingga identifikasi dari kelompok-kelompok risiko tinggi dan program edukasi, screening dan terapi profilaktik dapat dikembangkan (Kumar et al, 2005).
Lesi-lesi pre malignan telah diidentifikasi pada hampir semua organ-organ epitelial, dan keadaan histologist yang nyata dengan mengistilahkan displasia telah dideskripsikan (Tabel 1). Ini menyiratkan suatu keadaan yang tidak rapi/berantakan  tetapi proliferasinya nonneoplastik, dengan adanya kehilangan uniformitas selular dan organisasi arsitektural. Perubahan-perubahan dari ringan sampai sedang yang tidak melibatkan keseluruhan epitelium mungkin reversibel (dapat kembali) dengan menghilangkan penyebab-penyebabnya. Pada kontras, karsinoma in situ, lesi dimana terjadi perubahan displastik ditandai dan melibatkan keseluruhan ketebalan dari epitelium, diperkirakan menjadi stadium pre invasif kanker yang memiliki semua gambaran-gambaran morfologi kanker, kecuali  invasi di luar membrana basalis. (Kumar et al, 2005).
            Angiogenesis, pertumbuhan pembuluh-pembuluh baru dari pembuluh-pembuluh yang sudah ada, memainkan peran penting pada perkembangan tumor, menyediakan nutrien-nutrien dan faktor-faktor pertumbuhan, sebagai tambahan untuk membantu penyebaran sel tumor (Hanahan dan Folkman, 1996). Angiogenesis membutuhkan pelepasan dari  faktor-faktor pertumbuhan  mitogenik ke endotelium, dan proses ini bergantung pada net balance dari faktor-faktor angiogenik dan antiangiogenik. Perkembangan dari tumor avaskular menjadi fenotipe angiogenik bervaskularisasi diistilahkan dengan “angiogenic switch” (Folkman et al, 1989) dan sepertinya untuk terjadi langkah-langkah kecil multipel menghasilkan peningkatan bertahap pada angiogenik potensial, seperti jaringan normal yang mendapatkan gambaran-gambaran neoplastik berubah bentuk (transform) pada awalnya menjadi kanker pre invasif, dengan perkembangan selanjutnya menjadi tumor invasif pada beberapa kasus. Proses angiogenik dimulai pada stadium pre malignan  dari kebanyakan kanker didasarkan atas eksperimental sebagaimana halnya observasi-observasi klinis dimana tumor-tumor malignan menginduksi angiogenesis pada  volume 1–2 mm3 (Gimbrone et al, 1972). Pada intervensi-intervensi terapeutik, dimana menghalangi angiogenesis, penurunan keagresifan dari malignansi; oleh karena itu, pendekatan ini dapat mencegah atau menunda perkembangan dari kondisi-kondisi pre malignan menjadi malignansi sesungguhnya (Albini et al, 2007). Sebagai tambahan, bukti dari peningkatan angiogenesis pada lesi-lesi pre-malignan dapat dipakai sebagai marker pengganti untuk perkembangan tumor, sebagai mayoritas tidak berkembang menjadi  penyakit malignan. Identifikasi dari stadium pada spektrum  penyakit, ketika perubahan pada faktor-faktor keseimbangan mempengaruhi kelangsungan angiogenesis, dan faktor-faktor / mekanisme-mekanisme yang  bertanggungjawab untuk perubahan ini kemudian penting dalam strategi-strategi perkembangan untuk mencegah perkembangan dari lesi-lesi pre malignan menjadi tumor-tumor malignan.
Walaupun terdapat banyak sekali faktor-faktor pro dan antiangiogenik, didasarkan atas pengetahuan yang didapatkan dari penelitian-penelitian angiogenesis pada tumor-tumor malignan, mengikuti faktor-faktor yang telah dipelajari pada lesi-lesi pre malignan manusia. Kebanyakan faktor-faktor pertumbuhan angiogenik paling potensial yang sesuai adalah family vascular endothelial growth factor (VEGF). Vascular endothelial growth factor–A (umumnya dikenal sebagai VEGF) adalah anggota keluarga yang paling banyak bekerja sebagai mitogen spesifik untuk sel-sel endothelial in vitro dan sebagai molekul angiogenik in vivo (Ferrara et al, 2003). Regulator primer dari sekresi VEGF adalah lingkungan mikro hipoksik, dimana adalah dimediasikan (ditengahi) oleh faktor transkripsi hypoxiainducible faktor 1-α (HIF-1α). Di bawah kondisi-kondisi hipoksik, HIF-1 α berkumpul pada sitoplasma dan membentuk heterodimer dengan HIF-1β. Pada gilirannya, mempermudah translokasi inti HIF-1α, dimana menginisiasi/memulai transkripsi gen-gen yang terlibat dalam berbagai respon-respon seluler menjadi hipoksia (Pugh dan Ratcliffe, 2003). Kerja-Kerja dari VEGF dimediasikan/diperantarai oleh suatu keluarga dekat dari reseptor tirosin kinase yang  terdiri dari tiga anggota-anggota diistilahkan dengan VEGFR-1, VEGFR-2 dan VEGFR-3. Faktor pertumbuhan endotelial vaskular reseptor-2 adalah reseptor pro-angiogenik utama dan memperantarai mayoritas efek downstream dari VEGF-A (Ferrara et al, 2003). Timidin fosforilase (TP), suatu enzim intraseluler yang memperlihatkan aktivitas angiogenik, menstimulasi proliferasi sel endotel dan migrasi (Ishikawa et al, 1989). Juga menganugerahkan resistensi/kekebalan terhadap apoptosis yang diinduksi hipoksia. Matriks metaloproteinase (MMPs) menfasilitasi angiogenesis dengan mendegradasikan membrana basalis  dan ECM, dimana   sebagai tambahan untuk memfasilitasikan formasi kapiler juga melepaskan faktor-faktor pertumbuhan yang berada di stroma. (Folgueras et al, 2004). Diskusi dari semua faktor-faktor pertumbuhan dan inhibitor-inhibitor yang terlibat dalam fenomena angiogenesis adalah di luar jangkauan dari tinjauan ulang ini. Tinjauan ulang ini meninjau ulang fokus dari bukti yang tersedia saat ini yang mendukung konsep dari angiogenesis pada lesi-lesi pre-malignan manusia dan mekanisme-mekanisme penting yang mengatur fenomena ini.
BUKTI PENINGKATAN ANGIOGENESIS PADA KONDISI-KONDISI PRE-MALIGNAN MANUSIA
Tumor-Tumor eksperimental kurang dari 1 mm3 adalah pada avaskular umum dan tumbuh secara perlahan-lahan disebabkan oleh karena keterbatasan-keterbatasan beban oleh taraf difusi dari oksigen dan nutrien-nutrien. Ini didasarkan atas observasi-observasi  yang mana tumor-tumor tumbuh dalam area-area avaskular terisolasi, seperti aqueous chamber dari mata (dimana pembuluh-pembuluh darah tidak bisa berproliferasi), yang meluas hanya untuk  ukuran 1 mm3, tetapi setelah implantasi ke dalam iris, dimana merupakan area yang sangat vaskular, neovaskularisasi diinduksi dan tumor memperlihatkan pertumbuhan yang cepat (Gimbrone et al, 1972). Akan tetapi, paradigma ini telah ditentang oleh RIP-TAG transgenic murine model dari tumorigenesis sel islet (Hanahan, 1985). Mice mengekspresikan antigen T besar pada sel-sel islet mereka pada kelahiran dan mengekspresikan antigen SV40 di bawah kontrol dari promoter gen insulin, menghasilkan suatu perkembangan sequential (berurutan) dari tumor-tumor pada islet-islet diatas  periode 12–14 minggu. Perkembangan tumor diproses pada stadium/ stages; pada awalnya, sekitar 50% dari islet-islet menjadi hiperproliferatif dengan sebagian kecil (25%) sesudah itu memperoleh/mendapatkan kemampuan untuk menginduksi angiogenesis, sekitar 15–20% dari ini berkembang menjadi tumor-tumor benigna dan invasif. Hal tersebut menjadi bukti dari model ini yang mana angiogenesis dimulai sebelum kemunculan dari fenotip malignan invasif (Folkman et al, 1989). Kemudian, bukti yang pantas dipertimbangkan telah diakumulasikan berpihak pada konsep ini dari studi-studi pada lesi-lesi pramalignan manusia, mayoritas telah mempunyai kuantifikasi/jumlah angiogenesis  menggunakan ukuran pengganti dari densitas pembuluh mikro (MVD). Ini adalah hitungan microvessel berarti, diperoleh dengan menggunakan  jumlah terbatas dari lapangan/ field, secara subyektif diseleksi dan mewakili area-area yang kebanyakan bervaskularisasi diistilahkan sebagai “hot spots” (Fox dan Harris, 2004). Kebanyakan secara umum menggunakan antigen-antigen yang digunakan untuk  mengkarakterisasi microvessel secara imunohistologi adalah Faktor VIII, CD31 Dan CD34. Sekarang juga memungkinkan untuk membedakan antara pembentukan pembuluh-pembuluh immatur dan matur baru yang mapan menggunakan CD105 (Fox dan Harris, 2004). Sebagai tambahan, ekspresi dari faktor-faktor pertumbuhan angiogenik oleh lesi-lesi pre-malignan juga dipertimbangkan untuk menjadi indikator dari aktivitas angiogenik.
Kulit
Kedua lesi-lesi pre-malignan epithelial dan melanositik  telah diteliti untuk aktivitas angiogeniknya. Analisa imunohistokimia dari keratosis-keratosis aktinik dan Bowen’s disease dari 35 pasien yang menunjukkan peningkatan MVD dan laju proliferasi endotel. Kedua parameter meningkat secara signifikan pada masing-masing stadium penyakit, diduga bahwa aktivitas angiogenik meningkat pada awal perkembangan karsinoma sel skuamosa dermis (SCCs) (Nijsten et al, 2004). Lesi-lesi pre-malignant  dari garis keturunan melanosit juga menunjukkan secara signifikan peningkatkan MVD antara naevi benigna dan nodul-nodul displastik (Barnhill et al, 1992).
Saluran napas
Angiogenesis telah diidentifikasi pada leukoplakia laringeal, dengan peningkatan MVD secara signifikan antara epitelium normal dengan displasia dan antara displasia dengan karsinoma (Franchi et al, 2002). Pada lesi-lesi pre-malignant brankial,  peningkatan progresif pada MVD dari lesi hyperplastik/metaplastik menjadi displasia atau karsinoma in situ telah diperlihatkan. mRNA VEGF dan ekspresi protein yang paralel peningkatan MVD pada lesi-lesi ini, dengan ekspresi VEGF secara predominan pada epitelium bronkial (Merrick et al, 2005).
Traktus gastrointestinal
Studi-studi dari jaringan pre-malignan oral memperlihatkan peningkatan signifikan pada MVD dengan perkembangan dari epitelium normal menjadi kanker invasif (Carlile et al, 2001). Pada seri-seri besar dari Barrett’s oesofagus dan  adenokarsinoma terkait, angiogenesis secara mencolok meningkat pada lesi-lesi pre-malignan, yang mana dikaitkan dengan ekspresi VEGF. Ekspresi VEGF meningkat dalam sel-sel epitelial dengan ekspresi kuat VEGFR-2 pada pembuluh-pembuluh terkait (Auvinen et al, 2002). Bukti dari peningkatan angiogenesis juga diperlihatkan pada lesi-lesi prekursor SCC oesofageal yang disertai oleh peninggian VEGF dan level-level TP (Kitadai et al, 2004). Peningkatan CD34 hitung microvessel dan mRNA VEGF dan ekspresi protein telah diperlihatkan pada gastritis yang berhubungan dengan Helicobacter pylori (Tuccillo et al, 2005). Ekspresi VEGF dan inducible nitric oxide synthase juga meninggi pada gastritis atrofik kronik sebagaimana seperti pada area-area displastik dan metaplastik sebelum onset dari kanker gastrik (Feng et al, 2002).
Penelitian-penelitian pada unit kami menghitung angiogenesis pada sekuens adenoma-karsinoma kolorektal menggunakan pemulasan imunohistokimia untuk antigen CD31  memperkirakan bahwa peningkatan signifikan pada MVD diinduksi dengan onset dari displasia, setara dengan peningkatan signifikan pada ekspresi VEGF pada stadium yang sama dari progresi/kemajuan (Staton et al, 2007). Densitas microvessel dan ekspresi VEGF juga meningkat pada linear manner dengan progresi dari transformasi pada neoplasia intraepitelial anal, prekursor dari SCC anal (Mullerat et al, 2003). Angiogenesis, seperti didefinisikan dengan luasnya kapilarisasi sinusoidal dideteksi oleh antibodi-antibodi CD34, meningkat dengan progresi ke arah karsinoma hepatoseluler (HCC) dimulai  pada low-grade nodul displastik dengan peningkatan serentak pada ekspresi VEGF (Park et al, 2000).
Traktus genitourinarius
Studi-studi dari neoplasia intraepitelial vulvar (VIN), prekursor dari karsinoma vulvar, memperlihatkan suatu peningkatan signifikan pada MVD dengan peningkatan gradasi, yang mana   berkaitan dengan ekspresi VEGF. Densitas microvessel sendiri  juga suatu alat yang bernilai dalam mengidentifikasi potensial progresi menjadi SCC pada beberapa kasus dari VIN III (Bamberger dan Perrett, 2002). Beberapa studi telah menyimpulkan bahwa terdapat suatu peningkatan progresif pada MVD  dari epitelium normal menjadi SCC melalui neoplasia intraepitelial servikal, dengan beberapa studi juga memperlihatkan suatu korelasi signifikan antara MVD dan ekspresi VEGF (Dobbs et al, 1997; Tjalma et al, 1999). Ekspresi timidin fosforilase juga meningkat dengan beratnya lesi, tetapi ini tidak berkaitan dengan MVD (Dobbs et al, 2000). Pada proporsi besar dari neoplasia intraepitelial prostatik high grade, MVD meningkat dibanding jaringan normal, yang mana   memprediksi karsinoma prostatik serentak (Sinha et al, 2004).
Payudara
Walaupun karsinoma duktal in situ (DCIS) telah dipelajari secara ekstensif, peningkatan vascularisasi dan ekspresi VEGF telah pula diidentifikasi pada keduanya  dan karsinoma duktal in situ (DCIS)  dibandingkan dengan lesi-lesi epitelium duktal normal yang diduga sebagai pendahulu DCIS (Bos et al, 2001). Lesi-lesi karsinoma duktal in situ menunjukkan dua pola dari angiogenesis, peningkatan stromal MVD  dan  periductal membelenggu/cuff microvessels yang mengelilingi membrana basalis dari duktus-duktus. Sel tumor juga mengekspresikan level-level dari mRNA VEGF dan protein VEGF, dan peningkatan ekspresi reseptor VEGF pada sel-sel endotelial yang mengelilingi tumor-tumor tersebut (Guidi et al, 1997).
Keseluruhan, bukti dari studi-studi manusia yang mendukung observasi-observasi eksperimental dari model-model tikus, menduga inisiasi dari angiogenesis terjadi pada stadium pre-malignan dari perkembangan kanker. Ini adalah didukung dengan demonstrasi dari onset angiogenesis, sebagai yang ditentukan oleh MVD, dimana   mendahului perkembangan kanker invasif pada semua prekursor-prekursor  kanker-kanker padat manusia dipelajari sampai saat ini. Ada juga bukti yang menunjang anggapan tersebut yang mana peningkatan produksi faktor-faktor pertumbuhan angiogenik oleh sel tumor  bertanggungjawab untuk peningkatan vascularisasi  dari lesi-lesi pre-malignan. Walaupun tidak terdapat persetujuan mengenai peningkatan MVD sebagai suatu prediktor dari progresi menjadi malignansi, angiogenesis tampak seperti diinisiasikan selama stadium pre-malignan dan bahwa progresi menjadi kanker invasif dapat disebabkan oleh karena itu, sedikitnya pada sebagian, menjadi difasilitasi oleh peningkatan pasokan dari nutrien-nutrien dan oksigen yang disediakan  oleh peningkatan pasokan vascular.


MEKANISME-MEKANISME YANG MENDASARI INISIASI ANGIOGENESIS PADA LESI-LESI PRE-INVASIF
Pandangan-pandangan substansial telah ditambahkan ke dalam mekanisme-mekanisme angiogenik yang terlibat dalam tumor-tumor malignan. Terapi antiangiogenik yang telah  dikembangkan memperlihatkan kemanjuran pada setting pra-klinis, dan ini sekarang telah ditranslasikan ke dalam praktik klinis. Walaupun mungkin saja diperkirakan bahwa mekanisme biokimia dan fisiologis yang sama dilibatkan pada induksi dari angiogenesis pada lesi-lesi pre-malignant, saat ini ada bukti terbatas untuk mendukung asumsi ini. Ini mungkin disebabkan oleh karena kekurangan dari model-model hewan dan lapisan-lapisan sel eksperimental yang merupakan wakil dari penyakit pre-malignan. Model-model yang sesuai dari lesi-lesi pre-malignan kini sedang dikembangkan, yang mana   akan membantu dalam pemahaman selanjutnya dari mekanisme-mekanisme terlibat (Heppner dan Wolman, 1999; Tanaka et al, 2006). Suatu kombinasi dari data studi-studi jaringan manusia dan  penelitian-penelitian pada model-model hewan eksperimental telah meningkatkan pemahaman kami dari beberapa aspek dari inisiasi angiogenesis pada lesi-lesi ini.
Angiogenesis yang diperantarai hipoksia
Overexpression HIF-1α telah diperlihatkan pada lesi-lesi pre-malignan dari payudara, oesofagus dan prostat (Bos et al, 2001; Griffiths et al, 2007), dengan level-level HIF-1α  yang berkaitan dengan ekspresi VEGF dan MVD dari ke tiga organ. Akan tetapi, lesi-lesi tidak mempunyai area-area nekrosis yang jelas, diduga bahwa upregulasi HIF-1α mungkin disebabkan oleh karena mekanisme-mekanisme  non hipoksik. Paradoks yang terlihat ini telah diteliti pada lesi-lesi pre-malignan hepatik (Tanaka et al, 2006). Tekanan oksigen diukur in vivo di dalam lesi-lesi hepatik pre-neoplastic tikus, dimana diperlihatkan terhadap overexpression HIF-1α dan target transkripsionalnya seperti  VEGF dan glut-1. Tekanan oksigen di dalam lesi-lesi ini tidak berbeda dari jaringan hati normal. Akan tetapi, jalur PI3K/Akt, yang mana   dapat mengupregulasi ekspresi  HIF-1α, telah diaktifkan pada lesi-lesi ini dan mungkin bertanggungjawab untuk upregulasi non hipoksik dari ekspresi HIF-1α (Tanaka et al, 2006). Aktivitas dari kinase seluler telah pula ditemukan bertanggungjawab untuk peningkatan aktifitas HIF-1α pada virus hepatitis C (HCV)-sel-sel hepatik terinfeksi. Virus Hepatitis C, suatu virus RNA, memicu terjadinya perkembangan hepatitis kronik dan HCC lebih lanjut (Nasimuzzaman et al, 2007). Observasi-observasi ini menduga bahwa perubahan-perubahan genetic memicu karsinogenesis yang dapat menghasilkan suatu aktivasi aberan dari hipoksik signalling pada sel-sel lesi-lesi pre-malignan di bawah kondisi-kondisi normoksik.
Inflammatory mediator-promoted angiogenesis
Inflamasi telah diketahui selama bertahun-tahun menjadi inisiator/pemrakarsa dan promoter/pendorong karsinogenesis dan angiogenesis. Sekarang ada bukti meyakinkan bahwa mediator inflamatori kritis untuk perubahan-perubahan stromal yang menunjang perkembangan kanker (Mantovani et al, 2008). Upregulasi cylooxygenase-2 (COX-2)  secara luas telah dilaporkan dalam lesi-lesi pre-malignan dan berkaitan dengan angiogenesis (Raspollini et al, 2007). Infiltrasi makrofag dari lesi-lesi pre-malignan juga berkaitan dengan perkembangan angiogenesis dan neoplastik (Mazibrada et al, 2008). Observasi-observasi yang mendukung hipotesis ini dimana makrofag-makrofag mungkin merupakan sumber dari beberapa mediator inflamatori yang memicu angiogenesis termasuk TNF-α, MMPs, COX-2 dan kemokin-kemokin. Penelitian-penelitian in vitro dalam keterlibatan  makrofag-makrofag pada angiogenesis tumor mengindikasikan bahwa infiltrasi makrofag-makrofag ke dalam kanker payudara sel spheroid menghasilkan sedikitnya upregulasi tiga kali lipat pada pelepasan VEGF ketika dibandingkan dengan spheroid yang mengandung hanya sel tumor. Respon angiogenik yang diukur di sekitar spheroids, 3 hari setelah implantasi in vivo ke dalam dorsal skinfold chambers, secara signifikan lebih besar pada infiltrasi spheroid dengan makrofag-makrofag (Bingle et al, 2006). Bukti untuk peran/aturan yang serupa pada lesi-lesi premalignan telihat pada model tikus-kecil transgenik dari karsinogenesis payudara  dimana inhibisi infiltrasi makrofag ke dalam tumor-tumor memperlambat angiogenic switch  sedangkan induksi pre-matur infiltrasi makrofag ke dalam lesi-lesi pre-malignan mempromosikan onset dini angiogenic switch (Lin et al, 2006). Faktor transkripsi nuclear factor-kappa B (NF-κB), suatu kunci pengendali proses inflamatori, diaktifkan oleh sejumlah besar stimuli termasuk mikroba patogen, cedera jaringan dan nekrosis diantara beberapa lainnya (Karin, 2006). Pengaktifan NF- κB memainkan suatu peran kritis pada perkembangan tumor yang dimotori inflammasi sebagai proses-proses multipel berpengaruh misalnya kontrol siklus sel, apoptosis, produksi protease stromal dan apoptosis sebagai tambahan terhadap pelepasan dari mediator inflamatori termasuk interleukin-8 (IL-8), yang mana   mempromosi morfogenesis tubular dari sel-sel endotelial (Shono et al, 1996). Itu juga bekerja sebagai suatu kemoatraktan, mendorong ke arah perekrutan monosit-monosit, netrofil-netrofil dan limfosit-limfosit T kepada lokasi-lokasi tumor, yang mana   melepaskan MMPs dan kemokin-kemokin yang menstimulasi angiogenesis. Peningkatan aktivasi  NF-κB mungkin sekunder terhadap jalur upstream abnormal yang diregulasikan oleh tirosin kinase onkogenik seperti misalnya jalur Ras/MEK/ERK (Mantovani et al, 2008). Sebagai tambahan, terdapat bukti yang mana HIF-1α dan NF-κB dapat bertindak secara sinergis, selanjutnya meningkatkan angiogenesis (Scortegagna et al, 2008).
Oncogene-mediated angiogenesis
Secara terbaru, bukti akumulasi onkogen-onkogen tertentu dapat secara langsung menginduksi angiogenesis. Ini termasuk RAS dan MYC, yang mana diimplikasikan pada perkembangan kanker-kanker multipel. Protein Ras adalah keluarga protein G pengtransdusi-sinyal. Ras mengaktifkan jalur kinase MAP, yang mana   pada gilirannya mentargetkan faktor transkripsi nuklear mempromosi terjadinya mitogenesis (Shaw dan Cantley, 2006). Faktor-κB nuklear adalah salah satu dari protein-protein yang ekspresinya ditingkatkan oleh proses ini dan dapat bekerja sebagai suatu promoter dari angiogenesis. Proto-onkogen MYC diekspresikan secara virtual pada semua sel-sel eukariotik dan kepunyaan dari suatu kelompok gen-gen yang  secara cepat diinduksikan ketika sel-sel diam/quiscent menerima suatu sinyal untuk membagi. Pada model tikus kecil transgenik dari Myc-dependent β cell carcinogenesis, onset proliferasi sel endotel dicatat untuk memulai tidak lama sesudah Myc-induced cell cycle entry dari sel-sel β pankreatik. Proliferasi endotel lebih lanjut tidak disebabkan oleh hipoksia jaringan lokal tetapi melalui pelepasan dari pre-existing sequstered VEGFdari ECM oleh MMPs yang dimediasikan oleh produksi dan pelepasan dari sitokin proinflamatori IL-1β (Shchors et al, 2006).
p53 tumor supresor bekerja sebagai suatu supresor dari angiogenesis dengan meregulasikan produksi trombospondin-1, suatu angioinhibitor poten (Dameron et al, 1994). Penurunan aktivitas p53 berkaitan dengan peningkatan ekspresi VEGF dan angiogenesis pada displasia bronkial dan CIN (Fontanini et al, 1999; Lee et al, 2003). Homolog fosfatase dan tensin (PTEN) adalah suatu gen supresor tumor yang menginduksi siklus sel arrest/istirahat dan apoptosis. Kehilangan protein PTEN terjadi sepanjang stadium pre-malignan dari karsinoma endometrial (Mutter, 2002). PTEN juga bekerja sebagai suatu penghambat dari jalur PI3K/Akt yang meregulasi sintesis dari HIF-1α, dan oleh karena itu kehilangan dari aktifitas PTEN dapat menyebabkan promosi dari angiogenesis (Lee et al, 2005).
Fenomena ini telah pula diteliti sepanjang onkogenesis viral manusia. Infeksi HPV onkogenik adalah faktor inisiasi pada karsinogenesis serviks uteri. Onkoprotein-onkoprotein resiko tinggi, E6 Dan E7, penting untuk immortalisasi dan transformasi dari keratinosit-keratinosit servikal. Onkoprotein E6 mengikat protein p53, sedangkan E7 mengikat  supresor tumor RB (produk gen retinoblastoma) dan menginduksi degradasi mereka. Sebagai tambahan, overexpresi dari protein-protein ini pada sel-sel kanker servikal meningkatkan HIF-1α dan ekspresi VEGF, jadi secara potensial mempromosi angiogenesis pada neoplasia servikal (Tang et al, 2007). Infeksi Virus Hepatitis C adalah suatu penyebab penting dari HCC, dan pada sel-sel hepatik terinfeksi-HCV, telah ditunjukkan dimana HIF-1α itu  stabil di bawah kondisi-kondisi normoksik, mendorong ke arah peningkatan produksi VEGF (Nasimuzzaman et al, 2007).
Secara ringkas, angiogenic switch melibatkan suatu reprogramming dari profil transkripsi seluler, dengan faktor-faktor pro-angiogenik yang mempredominasikan berlebih faktor-faktor antiangiogenik, menghasilkan suatu fenotip angiogenik. Contoh-contoh memperincikan refleksi cara yang ditempuh oleh kejadian seluler yang mempromosi siklus sel dan proliferasi sepanjang karsinogenesis adalah tidak terlepas  kepada kejaian-kejadian stromal yang mendukung ekspansi dari sel-sel abnormal menjadi pemicu progresi tumour.
IMPLIKASI-IMPLIKASI TERAPEUTIK
Kemoprevensi adalah pemakaian farmakologis spesifik atau agen-agen nutrien untuk mencegah, membalikkan atau menghambat proses karsinogenesis. Pengenalan dari fakta yang mana banyak kanker telah mempunyai fase-fase pre-invasive tersendiri, dikombinasikan dengan kenyataan bahwa  sejumlah gambaran lesi-lesi ini terhadap kemunduran stimulus karsinogenik adalah bergeser, diduga bahwa mungkin saja untuk mencegah perkembangan dari kanker. Penemuan yang mana angiogenesis dan karsinogenesis adalah terkait dan angiogenesis tergantung untuk pertumbuhan  menuju kepada usaha untuk mencegah karsinogenesis melalui kombinasi strategi-strategi  angiopreventive (Albini et al, 2007). Walaupun kemoprevensi kanker tradisional mengandalkan atas agen-agen yang mencegah atau menunda transformasi dari sel-sel normal ke dalam sel-sel kanker, strataegi-strategi angioprevensi mentargetkan sel-sel pada lingkungan mikro yang berhubungan dengan angiogenesis. Dua intervensi-intervensi yang mentargetkan tipe-tipe sel berbeda dapat bertindak secara sinergis, menghasilkan suatu profilaksis lebih efektif yang dapat diselesaikan dengan baik secara individu. Kemajuan-kemajuan pada gambaran non-invasif, memfasilitasi penilaian angiogenesis pada jaringan-jaringan, klinisi-klinisi dapat memonitor starategi-startegi angioprevensi (Barrett et al, 2007). Riset terbaru mendemonstrasikan bahwa statin-statin mempromosi kematian sel endotelial dan menghambat angiogenesis eksperimental yang diinduksi oleh faktor-faktor pertumbuhan, menyediakan “proof of principle” untuk mengembangkan strategi-strategi angioprevensi yang didasarkan pada perkembangan statin (Boodhwani et al, 2006). Beberapa flavonoid misalnya xanthohumol dan deguelin telah pula didemonstrasikan mempunyai property angioprevensi di bawah kondisi-kondisi eksperimental ( Albini et al, 2007). Ini dan pengembangan dari komponen-komponen angioprevensi lebih baru di masa depan dapat menawarkan kemampuan untuk menghambat angiogenesis selama stadium pre-malignan dan menunda onset dari, atau progresi kepada, kanker.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar