Sabtu, 23 Mei 2015

DERMATITIS SPONGIOTIK

DERMATITIS SPONGIOTIK

PENDAHULUAN
Spongiosis adalah suatu proses dimana terjadi edema interselular diantara sel-sel skuamos pada epidermis disebabkan melebarnya jarak antar sel.(1,2)Sering disebabkan oleh proses peradangan ,terutama pada dermatitis ( ekzema). Spongiosis berperan dalam pembentukan spongiotic bullae atau vesicle.(2,3)
Komposisi dan gambaran dari infiltrat radang dan perubahan epidermis dan dermis membantu untuk membedakan berbagai kelainan.Walaupun banyak kondisi dermatologi yang menunjukkan spongiosis. Kelainan klinik  sangat membantu, bila tidak ada gambaran yang khas dalam membuat diagnosis.(4)
Dermatitis spongiosis  memiliki karakteristik adanya edema interselular pada epidermis. Pada lesi awal, interselular space meningkat dengan tertariknya desmosom, tetapi  epitelium masih utuh. Pada kondisi lanjut, terjadi pemisahan dari keratinosit  yang membentuk suatu ruangan   (vesikel).(3)
Gambaran histopatologi dapat bervariasi, tidak hanya bergantung kepada beratnya stimulus injuri tetapi juga waktu pengambilan sampel ( biopsi).(5)
PEMBAGIAN

Dermatitis spongiotik secara histologi dapat dibagi atas bentuk akut, subakut dan kronik(3,4,5)

DERMATITIS SPONGIOTIK AKUT

·         DERMATITIS KONTAK ALERGI

Dermatitis kontak alergi dapat terjadi karena kulit terpajan dengan bahan-bahan yang bersifat sensitizer ( alergen). Biasanya terjadi dalam 24-72 jam setelah terpajan.(3,7)
Patogenesis
Dermatitis kontak alergi merupakan reaksi tipe IV, cell-mediated, Delayed Type Hipersensitivity.
Hipersensitivitas lambat yang dipacu sel  T,  diawali oleh antigen yang dipresentasikan oleh sel Langerhans di epidermis yang selanjutnya dibawa kekelenjar getah bening regional dan mensensitisasi limfosit.(3,8,9)
Manifestasi Klinik
Fase akut : merah, edema, papula, vesikula, berair, krusta, gatal
Fase kronik : kulit tebal/ likenifikasi, kulit pecah-pecah, skuama, kulit kering dan hiperpigmentasi.(7)
Gambaran Mikroskopis
Lesi akut : Ditandai oleh spongiosis dengan intraepidermal spongiotic vesicles, orthokeratosis, exocytosis lymphocytes, kelompokkan dari sel langerhans pada epidermis, superfisial perivascular limphocytes dan eosinofil yangmenonjol. Pada pasien yang terpapar terus menerus dengan alergen, biopsi dapat menunjukkan gambaran dermatitis spongiotik subakut atau selanjutnya akan membentuk dermatitis spongiosis kronik, sering dengan lichen simplex chronicum.(3,4,6)·         INCONTINENTIA PIGMENTI
Incontinentia pigmenti merupakan kelainan bawaan dengan x linked dominantly transmission. Pada perempuan dengan kelainan gen hanya pada satu kromosom x, akibatnya tidaklah terlalu parah, sedangkan laki-laki dengan kelainan kromosom x ini memiliki akibat yang parah dan umunya meninggal dalam kandungan.(1,3,4,5)
Manifestasi klinik
Kelainan ini memiliki 4 tahap
Tahap pertama terdiri dari eritem dan bula dan membentuk garis dan dijumpai saat lahir atau segera setelahnya. Lesi yang tersering pada eksteremitas.Tahap kedua, terjadi setelah dua bulan, lesi vesikular bertahap digantikan dengan lesi verukous. Lesi ini dapat bertahan dalam beberapa bulan. Tahap ketiga, setelah lesi verukous hilang, terbentuk area luas pigmentasi yang batasnya tidak jelas, menyebar atau membentuk gelungan. Gambaran pigmentasi ini, dominan terjadi pada badan. Keadaan ini akan berkurang secara bertahap setelah beberapa tahun dan dapat hilang sempurna. Tahap keempat terlihat pada wanita dewasa.Dimana terjadi atrofi dari lesi dengan gambaran hipopigmentasi linear banyak dijumpai pada ekstremitas bawah.(3,4)
Sekitar 80% kasus, incontinentia pigmenti berhubungan dengan abnormalitas kongenital, umumnya kelainan pada cns, mata dan gigi.Alopesia partial pada vertex sering dijumpai.(1,3)
Gambaran mikroskopis
Vesikel tampak selama tahap pertama, timbul diantara epidermis dan berhubungan dengan spongiosis. Keadaan ini mirip dengan dermatitis. Yang membedakannya dengan dermatitis ,  terdapat banyak eosinofil didalam dan diantara epidermis ( eosinofil spongiosis). Epidermis diantara vesikel sering menunjukkan sel diskeratosis tunggal dan lingkaran dari sel skuamous dengan keratisasi didaerah sentral. Seperti pada epidermis, dermis juga menunjukkan infiltrat  yang mengandung banyak eosinofil dan sedikit sel mononuklear.
Perubahan pada tahap kedua terdiri dari akantosis, irregular papilomatosis dan hiperkeratosis. Intraepidermal keratinisasi, terdiri dari kumpulan keratinosit dan sebaran sel-sel diskeratosis, lebih jelas dibandingkan pada tahap pertama. Sel basal menunjukkan vakuolisasi dan penurunan jumlah melanin. Dermis menunjukkan infiltrat radang kronik dalam jumlah sedang bercampur dengan melanophage. Infiltrat ini menyebar ke epidermis pada beberapa tempat.
Area pigmentasi tampak pada tahap ketiga menunjukkan deposit yang luas dari melanin dengan melanophage berlokasi pada bagian atas dermis. Biasanya dermal hiperpigmentasi ini dijumpai berhubungan dengan pengurangan pigmen pada lapisan basal, sel menunjukkan vakuolisasi dan degenerasi. Pada beberapa kasus, sel pada lapisan basal mengandung melanin dalam jumlah besar.
Pada tahap ketiga dijumpai penurunan melanin pada lapisan basal dan eosinofil dengan jumlah yang bervariasi pada dermis.(3,4)SPONGIOSIS SUBAKUT
·         DERMATITIS NUMULAR
Definisi: Dermatitis dengan karakteristik plak eritematous berbentuk bulat sampai oval  seperti uang logam.(7,10)
Distribusi lesi pada ekstremitas atas terutama bagian dorsal tangan. Pada laki-laki sering timbul pada bagian ekstremitas bagian bawah.(7,10)
Patogenesis
Etiologi masih belum diketahui. Perubahan pada dermatitis numular mirip dengan dermatitis kontak. Interselular edema adalah hal yang menyolok. Dimana hilangnya desmosom seperti spongiosis sebagai pertanda.(3)
Manifestasi klinik
Lesi yang gatal dengan plak eritematous berbentuk bulat sampai oval (coin shape). Dapat dijumpai vesikel tetapi lebih sering dengan sisik atau krusta.(3,5,7)
a v� H x s `o@ x�? jumpai.(1,3)
Gambaran mikroskopis
Vesikel tampak selama tahap pertama, timbul diantara epidermis dan berhubungan dengan spongiosis. Keadaan ini mirip dengan dermatitis. Yang membedakannya dengan dermatitis ,  terdapat banyak eosinofil didalam dan diantara epidermis ( eosinofil spongiosis). Epidermis diantara vesikel sering menunjukkan sel diskeratosis tunggal dan lingkaran dari sel skuamous dengan keratisasi didaerah sentral. Seperti pada epidermis, dermis juga menunjukkan infiltrat  yang mengandung banyak eosinofil dan sedikit sel mononuklear.
Perubahan pada tahap kedua terdiri dari akantosis, irregular papilomatosis dan hiperkeratosis. Intraepidermal keratinisasi, terdiri dari kumpulan keratinosit dan sebaran sel-sel diskeratosis, lebih jelas dibandingkan pada tahap pertama. Sel basal menunjukkan vakuolisasi dan penurunan jumlah melanin. Dermis menunjukkan infiltrat radang kronik dalam jumlah sedang bercampur dengan melanophage. Infiltrat ini menyebar ke epidermis pada beberapa tempat.
Area pigmentasi tampak pada tahap ketiga menunjukkan deposit yang luas dari melanin dengan melanophage berlokasi pada bagian atas dermis. Biasanya dermal hiperpigmentasi ini dijumpai berhubungan dengan pengurangan pigmen pada lapisan basal, sel menunjukkan vakuolisasi dan degenerasi. Pada beberapa kasus, sel pada lapisan basal mengandung melanin dalam jumlah besar.
Pada tahap ketiga dijumpai penurunan melanin pada lapisan basal dan eosinofil dengan jumlah yang bervariasi pada dermis.(3,4)

Gambaran Mikroskopis
Terdapat spongiosis ringan sampai sedang, biasanya tanpa pembentukan vesikel. Akantosis irregular dengan eksositosis dari sel-sel radang biasanya dijumpai. Parakeratosis stratum korneum yang mengandung kumpulan plasma yang membentuk krusta. Edema papilari ringan dan dilatasi vaskular dapat dijumpai. Terdapat infiltrat perivascular superfisial dari limfosit, sedikit eosinofil dan terkadang neutrofil dan sel plasma.(3,4,6)
·         PYTIRIASIS ROSEA
Definisi : Dermatosis inflamatori yang penyebabnya tidak diketahui, mungkin disebabkan oleh virus.(11)
Lesi dijumpai pada badan, leher dan bagian atas ekstremitas. (lever) Sering dijumpai pada remaja dan dewasa muda, jarang mengenai orang > usia 60 tahun.(12)
Patogenesis
Penyebabnya masih belum diketahui, meskipun virus seperti human herpes virus diduga sebagai penyebab. Terdapat keterlibatan Cell mediated immunity pada patogenesis pytiriasis rosea dengan ditemukannya activated helper-inducer T lymphocyte (CD4/HLA/DR+) pada infiltrat epidermis dan dermis yang  berhubungan dengan peningkatan jumlah sel langerhan (CD1a+), dan ekspresi dari HLA-DR+ antigen pada permukaan keratinosit yang terletak disekitar area eksositosis limfosit. (3)
Manifestasi Klinik
Lesi awal berupa plak  bersisik yang berwarna merah ( lesi target), diikuti oleh beberapa bintik bintik kecil oval bersisik disekitar ruam (Christmas tree pattern). Dapat hilang spontan dalam beberapa minggu sampai bulan.(6,11,13)
Gambaran Mikroskopis
Lesi menunjukkan gambaran infiltrat perivascular pada bagian atas dermis yang dominan terdiri dari limfosit dan terkadang terdiri dari eosinofil dan histiosit. Limfosit sampai ke epidermis ( exocytosis), dimana pada epidermis terjadi spongiosis, edema intraselular, akantosis ringan sampai berat, area dengan lapisan granular yang berkurang atau hilang dan parakeratosis fokal dengan sel plasma. Pada beberapa kasus dijumpai intraepidermal spongiotic vesicle dan beberapa nekrotik keratinosit. Gambaran lanjut menunjukkan ekstravasasi eritrosit pada papilar dermis, dan kadang meluas sampai ke epidermis. Terkadang multinucleated keratinosit dapat dijumpai pada epidermis.Dijumpai pula hiperkeratosis fokal Lesi lanjut membentuk erupsi yang menyebar menyerupai gambaran psoriasis dan sedikit terjadi peningkatan jumlah eosinofil pada infiltrat radang.(3,11,13)
SPONGIOSIS KRONIK
·         LIKEN SIMPLEK KRONIK
Definisi : Suatu dermatitis dengan penebalan kulit dari jaringan tanduk ( likenifikasi) karena garukan atau gosokan yang berulang-ulang. Kebanyakan lesi hanya satu tempat tetapi bisa juga dijumpai pada beberapa tempat.(7,14)
Manifestasi klinis
Merupakan plak keratotik yang hiperpigmentasi dengan batas yang jelas dengan daerah yang normal. (7,14)
Gambaran Mikroskopis
Dijumpai gambaran hiperkeratosis yang berselang seling dengan area parakeratosis, akantosis dengan perpanjangan yang iregular dari rete ridge, hipergranulosis dan dan pelebaran dari papila dermal. Sedikit spongiosis dapat dijumpai tapi vakuolisasi tidak dijumpai. Papilomatosis yang minimal dapat dijumpai. Ekskoriasi, dengan titik ulcerasi yang dibatasi oleh nekrotik superfisial papilari dermis, fibrin dan neutrofil sering juga dijumpai, dimana hal tersebut sering dijumpai dibanyak dermatosis pruritik. Juga dijumpai infiltrat perivaskular superfisial tanpa eksositosis. Pada papila dermis, dijumpai peningkatan jumlah fibroblast dan kolagen.(3)
DAFTAR PUSTAKA
1.      Sanchez R.L, Raimer S.S, Dermatopathology. Landes Bioscience. USA. 2001. P 92
2.      Lever,W F. Histopathology of Skin, Lippincott. Philadelphia. 1967. Fourth Edition p 774
3.      Elder,David E,Levers Histopathology of The Skin, Ninth Edition Lippincott William and  Wilkins,USA, 2005,p 168-169,192-193, 247-250
4.      Sponiotic and Psoriasiform Dermatitis available at :
http:// www.Lasop.org/pgs/hdouts/2008-04/Lecture3-Spongiotic dermatitis-Sarantopaulo. pdf
5.      Farmer E.R, Hood A.F. Pathology of The Skin. Prentice Hall International. London 1990. P.63-77
6.      Grant-Kells,Jane M,Color Atlas of Dermatopathology,Informa Healthcare,USA,2007,p 35-37
7.      Harahap,Mawarli,Ilmu Penyakit Kulit,Penerbit Hipokrates,Jakarta,1998,hal 116-133
  1. Baratawidjaja KG,Imunologi Dasar,edisi 7,FK UI,2006,p.171, 271

9.      Kumar V, Abbas A.K Fausto N, Pathologic Basis of Disease. Elsavier Saunders. Philadelphia. 2005 p.1253
10.  Nummular dermatitis available at : http://emedicine.medscape.com/article/1123605-overview
11.  Hantschke W.K.M, Burdgrorf H K W. Dermatopathology, Springer. Germany.2008 p 28
13.  Ackerman, Bernard A, Differential Diagnose in Dermatopahology, Third Edition
14.  Lichen Simplex Chronicum availabel at  : http://emedicine.medscape.com/article/1123605-overview

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar