Selasa, 09 Juni 2015

HASHIMOTO TIROIDITIS



HASHIMOTO TIROIDITIS

Hipotirodisme disebabkan oleh kerusakan struktural atau fungsional yang mempengaruhi produksi hormon tiroid yang adekuat. Manifestasi klinisnya termasuk kretinisme dan myxedema. Hashimoto tiroiditis merupakan penyebab utama hipotiroidisme diseluruh dunia dimana kadar iodine-nya mencukupi.1
            Karakteristik hashimoto tiroiditis adalah kegagalan fungsi tiroid secara  bertahap (gradual), hal ini disebabkan oleh penghancuran autoimun dari kelenjar tiroid. Penyakit ini memiliki prevalensi antara 45 dan 65 tahun. Lebih sering didapati pada wanita dibandingkan dengan laki-laki. Perbandingan ini memiliki rasio 10:1 hingga 20:1. Meskipun penyakit ini lebih banyak dijumpai pada wanita dengan usia tua, dapat juga didapati pada anak-anak serta merupakan penyebab utama goiter nonendemik pada anak-anak.1

Patogenesis
            Hashimoto tiroiditis adalah penyakit autoimun dengan gambaran adanya deplesi sel-sel epitel tiroid (thyrocytes), yang secara bertahap (gradual) digantikan oleh infiltrasi sel mononuklear dan fibrosis. Mekanisme imunologik multipel memberikan kontribusi terhadap kematian thyrocytes, meskipun sensitisasi sel-sel T-helper CD4+ yang autoreaktif terhadap antigen tiroid kelihatannya berperan penting dalam memulai proses ini. 1

Beberapa mekanisme imunologi bagi apoptosis sel-sel tiroid termasuk diantaranya adalah 1 :

1. Apoptosis dimediasi sel T sitotoksik CD8+ ; sel-sel T sitotoksik CD8+ dapat menyebabkan destruksi tirosit.
2. Reaksi sel-sel T CD4+ terhadap antigen-antigen tiroid, yang memproduksi sitokin-terutama interferon ᵞ (IFN-ᵞ) yang memicu inflamasi dan aktivasi makrofag, sebagaimana dalam reaksi hipersensitivitas tertunda (delayed type).
3. Ikatan dengan antibodi anti-tiroid (anti-thyroglobulin dan antibodi anti-tiroid peroksidase) yang diikuti oleh antibody-dependent cell-mediated cytotoxicity.
Manifestasi Klinis
            Keluhan utama pada pemeriksaan klinis adalah pembesaran tiroid tanpa disertai rasa nyeri, biasanya berkaitan dengan hipotirodisme, pada wanita usia paruh baya. Pembesaran kelenjar tiroid umumnya simetrik dan difus, namun pada beberapa kasus terlokalisir sehingga terkadang dicurigai sebagai neoplasma. Pada keadaan klinis yang umum, hipotirodisme berkembang secara bertahap (gradual), meskipun demikian hal ini dapat diawali oleh tirotoksikosis transien yang disebabkan oleh kerusakan folikel-folikel tiroid, dengan pelepasan hormon-hormon tiroid sekunder (“hashitoxicosis”). Selama fase ini, kadar T3 dan T4 bebas, akan meningkat, TSH akan berkurang dan uptake iodine radioaktif akan berkurang. Seiring dengan berkembangnya hipotiroidisme, kadar T3 dan T4 akan jatuh, diikuti dengan peningkatan kompensatorik dalam TSH. Individual dengan Hashimoto Thyroiditis memiliki resiko tinggi untuk perkembangan penyakit autoimun lainnya, baik endokrin (diabetes tipe 1, autoimun adrenalitis) maupun nonendokrin (Sistemik Lupus Erythematosus, miasthenia gravis dan Sjogren syndrome). Juga terdapat peningkatan resiko bagi berkembangnya limfoma non-hodgkin sel-B, terutama limfoma zona marginal dari mucosa associated lymphoid tissues (MALT lymphomas). Hubungan antara Hashimoto Thyroiditis dan kanker epitel tiroid tetap kontroversial diantara para ahli. Beberapa penelitian morfologi dan molekular memberikan dugaan adanya suatu predisposisi penyakit ini terhadap karsinoma papillary. 1

Radiologi
            Nodul tiroid merupakan lesi dengan ciri-ciri tersendiri, secara sonografi berbeda dengan parenkim tiroid sekitarnya. Dibandingkan dengan penyakit tunggal, nodul-nodul ini merupakan manifestasi keseluruhan penyakit tiroid. Meskipun beberapa nodul tiroid dapat didapatkan pada pemeriksaan fisik, kebanyakan adalah temuan insidentil dari studi imaging lainnya, seperti MRI dan CT dari leher atau dada dan ultrasonografi karotid.3

Morfologi
            Tiroid biasanya membesar, meskipun dalam beberapa kasus dapat terlihat pembesaran yang lebih terlokalisir. Kapsul intak, dan kelenjar memiliki batas tegas dengan struktur sekitarnya. Permukaan potongan berwarna pucat, kuning kecoklatan dan nodular.1
Pada pemeriksaan mikroskopik terdapat infiltrasi yang ekstensif dari parenkim oleh infiltrat inflamatorik mononuklear yang mengandung limfosit-limfosit kecil, sel-sel plasma dan sentra-sentra germinal yang berkembang dengan baik.1
Folikel-folikel tiroid atrofi dan dibatasi pada banyak area oleh sel-sel epitel yang ditandai dengan banyaknya eosinofilik, sitoplasma granular yang disebut sel-sel Hurtle. Hal ini merupakan respon metaplastik dari epitel folikuler kuboidal rendah yang normal terhadap proses  trauma yang sedang berjalan.1
Pada contoh-contoh biopsi aspirasi jarum halus (fine needle aspiration biopsy), adanya sel-sel Hurtle dalam populasi limfosit yang heterogen merupakan karakteristik dari Hashimoto Thyroiditis, jaringan ikat interstitial meningkat dan banyak dijumpai. Varian fibrosa digambarkan oleh atrofi folikuler tiroid yang berat (severe) serta fibrosis dengan densitas tinggi yang meyerupai keloid (”keloid like”), pita yang kasar dari kolagen aseluler mencakup jaringan tiroid residual. Pada Hashimoto Thyroiditis, fibrosis tidak meluas hingga diluar kapsul kelenjar. Parenkim tiroid yang tersisa menggambarkan tiroiditis limfositik kronik.1
DAFTAR  PUSTAKA
1.         Kumar R, Abbas A, DeLancey A, Malone E. Robbins and Cotran Pathologic basis of disease 8th ed. 2010. Saunders. Philadelphia. pp: 
2.         Harii N, Lewis CJ, Vasko V, et.al. Thyrocytes Express a Functional Toll-Like Receptor 3: Overexpression Can Be Induced by Viral Infection and Reversed by Phenylmethimazole and Is Associated with Hashimoto’s Autoimmune Thyroiditis. Molecular Endocrinology 2005;19(5): 1231-50.
3.         Bonavita JA, Mayo J, Babb J, et.al. Pattern Recognition of Benign Nodules at Ultrasound of the Thyroid: Which Nodules Can Be Left Alone? AJR 2009; 193: 207-14.
4.         Intenzo CM, Capuzzi DM, Jabbour S, Kim SM, dePapp AE. Scintigraphic Featrures of Autoimmune Thyroiditis. RadioGraphics 2001; 21: 957-64.
5.         Cooke RA, Stewart B. Colour Atlas of Anatomical Pathology. 2004. Chuchill Livingstone. Edinburgh. Pp: 199.
6.         Gayathri BN, Kalyani R, Kumar H, Prasad K. Fine Needle Aspiration Cytology of Hashimoto’s Thyroiditis – A Diagnostic Pitfall with Review of Literature. Journal of Cytology 2011;28(4): 210-14.
7.         Jayaram G, Iyengar KR, Sthaneshwar P, Hayati JN. Hashimoto’s Thyroiditis – A Malaysian Perspective. Journal of Cytology 2007; 24 (3): 119-24.
8.         Pearce EN, Farwell AP, Braverman. Current Concepts Thyroiditis. N Eng J Med 2003; 348: 26: 2646-15.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar