Selasa, 09 Juni 2015

ABNORMALITAS DAN PATOGENESIS NEUROENDOKRIN RESEPTOR ESTROGEN POSITIF PADA KARSINOMA MAMMMA



ABNORMALITAS DAN PATOGENESIS NEUROENDOKRIN RESEPTOR ESTROGEN POSITIF PADA KARSINOMA MAMMMA


Abstrak
Karsinoma mamma pada wanita dapat timbul dalam manifestasi yang berbeda, tergantung ada atau tidaknya reseptor estrogen (ER). ER (+) dan ER (-) berhubungan dengan adanya onkogen, ER (+) biasanya juga berhubungan dengan 2 abnormalitas klinik neuroendokrin yang meliputi glandula pineal dan olfaktorial,  dimana keduanya dapat diakibatkan oleh gangguan metabolisme triptofan pada lintasan kinurenin.
_______________________________________________________________________________________

            Studi epidemiologi, genetik dan endokrinologi terbaru menunjukkan, karsinoma mamma terjadi paling sedikit dalam 2 bentuk yang berbeda tergantung dari status reseptor estrogen.

Epidemiologi
            Ditemukan adanya  variasi insiden yang berbeda untuk terjadinya karsinoma mamma di dunia. Penyakit ini ditemukan lima kali lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan di Jepang atau negara timur jauh lainnya. Penyakit ini tidak diturunkan secara genetik. Pada generasi pertama dan kedua wanita Jepang di San Fransisko lebih banyak menderita karsinoma mamma daripada wanita yang tinggal di Jepang.
            Adanya variasi geografik berhubungan dengan perbedaan diet, terutama intake lemak. Di Jepang, rata-rata intake lemak rendah  dan di Amerika intake lemak tinggi. Pada penganut Advent, intake lemak lebih rendah lagi karena mereka vegetarian, sehingga mempunyai kecenderungan yang lebih rendah lagi terkena karsinoma mamma dibandingkan populasi umum. Bagaimanapun, status ekonomi juga dapat merupakan variabel pengganggu.
            Pada negara yang mempunyai resiko rendah atau tinggi, insiden terjadinya karsinoma mamma bervariasi. Di Jepang yang mempunyai resiko rendah, kejadian karsinoma mamma menurun setelah menopause, sementara di Swedia, insiden tetap meningkat walaupun sudah melewati masa menopause. Hal ini menunjukkan berbagai etiologi dan manifestasi yang dapat terjadi pada karsinoma mamma.

Genetik
            Adanya riwayat keluarga merupakan faktor resiko utama pada karsinomma mamma dan terutama sekali jika dijumpai bilateral atau adanya hubungan keluarga baik pada pria maupun pada wanita. Diduga secara genetik hubungan dengan antigen HLA  dan tipe serumen tidak begitu kuat.
            Keadaan genetik ini memacu untuk untuk dilakukan penelitian terhadap perubahan gen spesifik, onkogen yang bertanggung jawab untuk terjadinya karsinoma mamma pada wanita.  Suatu studi menunjukkan ada hubungan yang erat antara perubahan gen yang teraktivasi pada enam ekor tikus yang berbeda dengan karsinoma mamma  yang diinduksi dengan virus tumor pada mamma tikus atau dengan karsinogen dimethylbenzanthracene. Studi yang lain menunjukkan deteksi dan kloning dari onkogen H-ras Harvey yang berasal dari HS578t human mammary carcinoma cell line berasal dari tumor malignansi yang tinggi  jarang, dengan gambaran histopatologi menunjukkan karsinoma dan sarkoma.
            Studi yang ketiga menjelaskan adanya fungsi yang menguat dari gen v-erb-B terhadap karsinoma mamma pada manusia. Gen ini memberi kode pintasan reseptor dari epidermal growth factor (EGF), yang bertanggung jawab terhadap proliferasi sel-sel maligna.
            Meskipun berdasarkan data ini adanya gen perubah yang menyebabkan terjadinya tumor mamma pada manusia tidak dominan, Krause dkk melihat tidak dijumpai adanya onkogen pada empat penderita carcinoma cell line dan 16 penderita karsinoma mamma primer pada manusia. Lebih lanjut, terjadinya karsinoma mamma herediter secara mutlak jarang terjadi. Sekitar 5% dari seluruh pasien memenuhi kriteria untuk dapat diklasifikasikan ke dalam autosomal dominant.
            Beberapa onkogen menjadikan tumor  tidak bergantung dengan hormon dan bersifatER (-). Suatu penelitian yang dilakukan oleh Kasid dkk menunjukkan  efek ini  pada MCF-7 human breast cancer cell line. Sel MCF-7 memerlukan  level estradiol substansial   untuk membentuk tumor secara in vivo. Bagaimanapun, ketika onkogen v-rash masuk ke dalam sel,  tidak memperlihatkan lagi pertambahan pertumbuhan pada kultur  terhadap estrogen  dan proliferasi dapat dicegah secara minimal oleh antiestrogen. Selanjutnya, studi pada 104  tumor mamma primer Sainsbury dkk menemukan bahwa reseptor epidermal growth factor yang berhubungan dengan onkogen erb-B juga berhubungan dengan lesi pada ER (-).

Endokrinologi
            Dijumpai ada hubungan yang erat antara karsinoma mamma dan hormon, terutama estrogen, progesteron dan kemungkinan juga prolaktin. Wanita mempunyai resiko terkena karsinoma mamma 100x dibandingkan pria dan penyakit ini tidak terjadi sebelum pubertas. Faktor resiko terjadinya karsinoma mamma meningkat bila menarche terlalu dini dan menopause yang terlambat, semakin lama wanita dalam masa fungsi ovarium normal, resiko semakin besar. Selanjutnya, seorang anak perempuan dengan ibu yang menderita karsinoma mamma mengalami peningkatan kadar prolaktin per 24 jam dan resistensi parsial prolaktin akibat supresi dopamin. Penyimpangan ini menunjukkan adanya abnormalitas neuroendokrin, dimulai dari sekresi estrogen, progesteron dan prolaktin dibawah kontrol neuroendokrin. Tiap jam, gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang dihasilkan oleh nukleus arkuata hipotalamus, menstimulasi untuk dilepaskannya gonadotropin follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). FSH dan LH menstimulasi ovarium untuk menghasilkan  estrogen dan progesteron. Produksi prolaktin yang dihasilkan oleh pituitari anterior diatur oleh prolactin-inhibiting factor (PIF). Mekanisme kontrol terhadap PIF behubungan erat dengan GnRH dan menempati daerah yang sama pada area hipotalamus.
            Kami menyimpulkan bahwa defek neuroendokrin dengan mekanisme kontrol mendukung untuk terjadinya predisposisi karsinoma mamma ER (+). Akhir-akhir ini diketahui abnormalitas melibatkan pineal, olfaktorial dan metabolisme triptofan menunjukkkan defek berhubungan dengan karsinoma mammaER (+). Berikut data yang mendukung hipotesis ini.
            Glandula pineal, terutama melatonin dan karsinoma mamma saling berhubungan . Dijumpai penurunan puncak melatonin plasma nokturnal pada wanita penderita karsinoma mamma ER (+) dan inhibisi melatonin, sehingga tindakan pinealektomi meningkatkan terjadinya karsinoma mamma pada tikus yang diinduksi oleh  dimethylbenzanthracene.
            Fungsi pineal berhubungan dengan sensasi penghidu dan wanita ER (+) penurunan fungsi penghidu. Impuls eferen olfaktorius melintasi berkas medial serebrum menuju bagian lateral seluruh hipotalamus dan karena fungsi pineal mamalia normal tergantung dari nukleus suprakhiasmatikus  hipotalamus, kami menduga gangguan pineal dan abnormalitas olfaktorial berasal dari tempat yang sama di hipotalamus., kemungkinan penyebabnya adalah defek neurotransmitter, menyangkut serotonin.
            Asam amino L-triptofan merupakan prekursor melatonin dan serotonin. Selain itu , abnormalitas triptofan berhubungan dengan karsinoma mamma. Setelah mendapat  2 gram triptofan oral, level metabolit triptofan yang mengalami lintasan kinurenin meningkat pada urin kebanyakan wanita dengan karsinoma mamma. Dengan menggunakan metode assay Arend dkk, kami mengukur level kinurenin total per 24 jam pada sampel urin wanita stadium dini karsinoma mamma yang telah mendapat 2 gram triptofan.

  




Berikut ini angka yang didapatkan pada wanita penderita karsinoma mamma ER (+) dan ER (-) :


RE (+)
RE(-)
Jumlah subjek
11
10
Kinurenin (μmol/hari)
33,0 ± 28,7
12,2 ± 5,6
Signifikan
P < 0,005


            Dijumpai ekskresi kinurenin yang lebih tinggi pada subjek dengan ER (+) menunjukkan adanya gangguan metabolisme triptofan. Apakah abnormalitas ini bertanggung jawab terhadap abnormalitas melatonin dan olfaktorial pada subjek ini, tidak dapat ditentukan dari pengamatan ini. Walaupun demikian, suatu hal yang menarik untuk menduga bahwa kerusakan  terjadi akibat gangguan metabolisme triptofan secara genetik, dimana yang merubah triptofan dari jalur serotonin ke jalur kinurenin. Pengamatan peningkatan ekskresi kinurenin  berhubungan dengan pengurangan derajat relaps pada wanita premenopause  stadium I dan II karsinoma mamma  sesuai dengan hipotesis ini, selama karsinoma mamma ER (+) dijumpai lebih lama secara natural daripada ER (-).
            Keterangan lebih lanjut dari abnormalitas neuroendokrin menunjukkan adanya hubungan antara lemak tubuh  dengan onset menarche dan resiko neoplasma mamma. Anak perempuan yang gemuk lebih cepat menarche, sedangkan anak perempuan yang lansing lebih lambat untuk mendapat menses. Keterlambatan ini akibat modifikasi yang terjadi pada aktivitas nukleus arkuata hipotalamus. Wanita yang kurus mempunyai resiko yang rendah terhadap karsinoma mamma, dibandingkan dengan wanita yang gemuk. Penampakan habitus tubuh mempengaruhi mekanisme regulasi neuroendokrin yang sama dan bertanggung jawab  untuk fertilitas dan predisposisi karsinoma mamma. Pengaruh ini  berdasarkan fakta bahwa asam lemak bebas mengganggu ratio lepasnya triptofan dalam plasma. Asam lemak bebas menyebabkan peningkatan triptofan bebas  yang dapat melewati sawar otak.
            Penemuan baru yang lain menunjukkan gangguan fungsi neuroendokrin bersama-sama  dengan onkogen untuk menginduksi karsinoma mamma ER (+). Pertama, reseptor estrogen manusia c-DNA menunjukkan sekuensi, ekspresi dan homologi terhadap onkogen erb-A. Kedua, gen myc tikus normal dengan jumlah yang besar digantikan secara induksi hormonal pada virus tumor mamma tikus (MTV) DNA, yang dimasukkan pada embrio tikus. Hasilnya didapatkan perkembangan karsinoma mamma secara spontan pada tikus, tetapi hanya pada kehamilan kedua dan ketiga. MTV/ myc fusion gene itu sendiri tidak cukup untuk menginduksi terjadinya karsinoma mamma. Dengan demikian, perubahan hormonal dan neuroendokrin , kemungkinan berhubungan dengan prediposisi berkembangnya karsinoma mamma untuk menginduksi terjadinya karsinoma mamma pada tikus transgenik.
            Gambaran psikoendokrin yang menarik dari penderita karsinoma mamma sehubungan dengan depresi. Pada stadium awal, derajat bebas rekurens, penderita yang merasa dirinya tidak tertolong dan tidak mempunyai harapan lagi mempunyai survival yang lebih buruk bila dibandingkan dengan wanita yang mempunyai daya untuk menolak atau bersemangat untuk melawan penyakitnya. Sebagai tambahan, kadar puncak melatonin nokturnal lebih rendah pada pasien yang depresi dengan ER (+). Peningkatan kortisol dijumpai pada pasien depresi dan wanita penderita karsinoma mamma. Jika patogenesis karsinoma mamma ER (+) disertai depresi, pemberian antidepresan dapat bermanfaat sebagai terapi pencegahan pada wanita faktor resiko tinggi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar